Balada si Asisten Rumah Tangga

Pembantu.

Sebutan di atas nampaknya sudah mulai tidak dipakai lagi dan kini telah diganti dengan sebutan “asisten”. Terbukti dari panggilan mereka yang mulai diperhalus ini, derajat para penolong sepertinya mulai naik perlahan tapi pasti.

Padahal sebenarnya menurut saya, tidak ada yang salah dengan kata “pembantu”. Pembantu berasal dari kata “bantu” dan jika digabung dengan imbuhannya maka artinya menjadi “orang yang membantu”. Mereka memang membantu urusan rumah tangga, kok. Dan bukankah membantu itu sesuatu yang mulia? Dan bukankah “asisten” itu sama saja artinya dengan “pembantu”? Jadi bagi yang menganggap sebutan “pembantu” itu tidak baik, mungkin itu karena anggapan mereka sendiri. Anggapan mereka yang mungkin dari awal mengartikan pekerjaan “pembantu” itu rendah dsb.

Sering kita mendengar berita tentang para Asisten Rumah Tangga (ART) yang diperlakukan tidak baik oleh para majikan, terutama para TKW yang bekerja di luar negeri. Tapi itu semua sangat berbeda sejauh langit dan bumi dengan apa yang terjadi di kota besar di Indonesia. Rupanya saat ini para asisten sudah cukup handal menghadapi para tuan rumah.

ART saat ini banyak yang sudah memahami prinsip ekonomi. Mereka sadar bahwa seiring dengan semakin banyaknya wanita karier dan wanita sibuk di kota besar maka semakin sedikit pula waktu mereka mengurus rumah dan akhirnya berbuntut pada tingginya demand terhadap jasa ART. Saat demand semakin tinggi dan supply terbatas, maka semakin tinggi jugalah “harga” mereka.

Keterbatasan supply ini dikarenakan ART biasanya berasal dari kota atau kabupaten kecil yang letaknya cukup jauh dari kota besar tempat tujuan mereka bekerja. Dan belum banyak dari mereka yang punya jiwa petualang untuk tinggal dan bekerja jauh dari kampung halaman. Demand yang tinggi untuk jasa ART juga menjadi faktor terbatasnya supply. Satu rumah di kota besar bisa membutuhkan dua sampai tiga ART; terutama bagi rumah yang suami-istrinya bekerja dan sudah memiliki anak. Tidak heran bila mereka menjadi rebutan tuan-tuan rumah.

Karena merasa sangat dibutuhkan maka ART masa kini mematok harga yang cukup tinggi. Tuan rumah pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima harga tersebut, karena memang kebutuhan mereka akan ART sangat mendesak. Tuan rumah khawatir mereka akan kehabisan stock ART untuk mengurus rumah dan anak mereka, dan itu artinya bagi mereka adalah — malapetaka.

Selain harga yang tinggi, ART kini juga mulai pemilih. Lingkungan kerja yang tidak sesuai, ketidakcocokan dengan tuan rumah, pekerjaan yang terlalu banyak, atau masalah lain yang sebenarnya tidak terlalu gawat bisa membuat mereka tidak betah bekerja. Hal ini terjadi karena mereka merasa sangat dibutukan dan karena mereka tidak diikat kontrak kerja.

Ada juga ART yang pandai mempermainkan tuan rumah. Mereka mempunyai strategi khusus untuk menaikkan pendapatan mereka. Hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat tuan rumah mereka jatuh hati atas jasa yang mereka berikan. Kemudian dengan satu alasan, mereka minta keluar dari pekerjaan mereka dan selama mereka keluar dari rumah tuan rumah pertama, mereka akan bekerja di tempat lain. Setelah menunggu waktu yang tepat saat si tuan rumah pertama membutuhkan ART, mereka akan kembali lagi. Tanpa diragukan lagi, tuan rumah pertama akan dengan senang hati menerima mereka dan akan memberikan berapapun gaji yang diminta.

Jangan juga meremehkan networking para ART masa kini, percaya atau tidak para ART yang bekerja di perumahan – dimana demand akan ART sangat tinggi – saling mengenal satu sama lain. Mereka saling bertukar informasi tentang banyak hal, sehingga mereka tidak lagi kesulitan mencari lowongan pekerjaan berikut informasi gajinya.

ART masa kini juga sudah memiliki manajemen keuangan yang baik. Alih-alih memakai uang mereka untuk berfoya-foya di kota besar, mereka lebih memilih investasi. Mereka membeli rumah, sawah, ladang, tanah, atau tambak di kampung halaman untuk kemudian mereka usahakan dan mereka jadikan simpanan. Sehingga suatu hari kelak, ketika mereka sudah tidak sanggup bekerja lagi mereka bisa hidup tenang dan berkecukupan.

Jadi kesimpulanya, jangan lagi meremehkan para Asisten Rumah Tangga ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s