Mendoan

 

Di dekat kampus saya, ada sebuah rumah makan yang menjajakan makanan khas rumahan yang enak dan murah. Makanan kesukaan saya yang sering saya beli dari sana adalah mendoan. Tempe yang digoreng dengan balutan tepung ini sangat nikmat disantap hangat dengan ditambah cabai rawit. Harganya pun murah, hanya seribu rupiah saja.

men

 

I love you.

Namun sayang sekali, sepertinya saat ini harga mendoan akan naik. Berulang-ulang reporter di televisi membacakan berita tentang menguatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah dan dampaknya terhadap harga kedelai. Saat saya menulis ini, harga kedelai hampir mencapai sembilan ribu rupiah dari harga semula yang hanya sekitar enam ribu lima ratus rupiah. Hal ini terjadi karena sebagian besar kedelai yang ada di Indonesia adalah produk impor dari Amerika Serikat dan Kanada. Negara ini harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli kedelai dari luar, sehingga harga pasaran pun ikut meroket.

Hati saya kini digelitik dengan rasa prihatin. Tempe dan tahu adalah sumber protein utama yang sering dihidangkan di meja-meja makan di seluruh pelosok negeri. Dari meja makan warteg sampai meja makan istana negara. Selain rasanya enak dan punya kandungan protein tinggi, tahu dan tempe juga terjangkau harganya. Itulah sebabnya banyak orang di negara ini memilih tahu dan tempe sebagai teman mereka makan nasi. Terutama mereka yang tidak punya cukup uang untuk membeli daging atau telur.

Yang terkena dampak bukan hanya konsumen saja tapi juga produsen tahu dan tempe, saat ini sudah banyak dari mereka yang gulung tikar atau beralih profesi. Mereka terlihat sangat depresi dengan melonjaknya harga bahan baku. Mereka yang bertahan mensiasati kenaikan harga ini dengan mengecilkan ukuran produk, merumahkan karyawan, menaikkan harga, atau sekaligus ketiganya.

Bapak Menteri kita saat ini sedang dipusingkan dengan hal ini. Dari sebuah berita yang saya baca, beliau mengatakan bahwa stok kedelai kita saat ini cukup sampai akhir tahun, dan krisis kedelai ini hanya diakibatkan oleh informasi asimetri (menurut sumber yang saya baca, informasi asimetri adalah keadaan dimana penjual memiliki lebih banyak daripada pembeli atau sebaliknya). Tetapi pertanyaannya jika memang hanya itu masalahnya, mengapa hingga saat ini pemerintah belum mampu menuntaskannya?

Menurut saya, metode stok yang saat ini dilakukan oleh pemerintah tidak menyelesaikan masalah tuntas ke akarnya. Apalagi jika dilihat dari biaya pelaksanaannya mahal dan rentan korupsi. Saya merasa sudah cukup kita bergantung pada hasil panen kedelai dari luar negeri, sementara kita sendiri sebenarnya mampu menanam sendiri. Swadaya kedelai harus sudah mulai dilaksanakan dan bukan sekedar masuk wacana saja. Banyak sekali lulusan pertanian atau teknologi pangan di negeri ini yang mampu membimbing petani-petani kedelai Indonesia untuk mampu mewujudkannya. Kenaikan harga kedelai mungkin merupakan tamparan kecil bagi kita, supaya kita bisa memikirkan jalan keluar untuk jangka panjang. Dengan produksi dalam negeri, kontrol harga akan lebih mudah dan ekonomi negara ini akan lebih hidup.

Kampus terkenal di kota kelahiran saya Surakarta, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS) masuk sorotan berita atas keberhasilannya membudidayakan kacang kedelai. Saya senang sekali akan inisiatif kampus ini, apalagi rektor UNS berkata bahwa hal ini diharapkan mampu mengatasi krisis kedelai yang terjadi di Jawa Tengah. Semestinya hal ini mampu mendongkrak semangat kita untuk mewujudkan swadaya kedelai, supaya kelak tidak perlu puasa tempe tahu ketika nilai tukar dollar naik lagi.

Selain itu Indonesia juga harus belajar memberdayakan bahan baku lain dari sumber alam lokal yang ada. Tempe dan tahu tidak hanya bisa dibuat dari kacang kedelai saja; sudah banyak riset dan percobaan yang berhasil membuat variasi tempe tahu dengan banyak bahan lainnya. Salah satu contohnya adalah kacang tunggak; pembuatan tempe dari kacang tunggak ini sama prosesnya dengan tempe kacang kedelai hanya bedanya kacang tunggak perlu dikupas kulitnya lebih dahulu. Kelebihan tempe kacang tunggak ini adalah harganya lebih murah dan kandungan karbohidratnya lebih tinggi. Selain kacang tunggak juga banyak kacang-kacangan lain yang bisa dipakai sebagai bahan baku yaitu; biji kacang panjang, kacang merah, kacang karabenguk, kacang kecipir, dsb.

Kesimpulan saya, negara ini sebenarnya dipenuhi oleh orang kreatif yang mampu bertindak untuk mengatasi masalah. Kesadaran ini hanya perlu ditularkan kepada seluruh masyarakat. Ketika pemerintah tidak mampu menuntaskan problem, rakyat jangan hanya menggerutu dan memaki, rakyat juga harus mampu ikut memikirkan jalan keluar. Karena Indonesia bukan hanya milik pemerintah – Indonesia milik kita bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s