Jodoh

Artikel ini terinspirasi dari cerita saya sendiri. Bukan bermaksud untuk membeberkan cerita pribadi atau bermaksud curhat, tapi saya ingin berbagi sedikit pendapat saya tentang jodoh.

Banyak sekali pembicara dan penulis yang membahas tentang cinta dan jodoh. Kisah-kisah yang diciptakan pun sepertinya tidak pernah mengalami ketertinggalan zaman dan berkurangnya popularitas. Ada yang mengisahkan tentang sisi manisnya dan sudah pasti ada yang menciptakan sisi pahitnya. Bagaimana jodoh itu menurut saya?

Sebagian kecil dari diri saya yang lugu sekali percaya bahwa jika saya bertemu jodoh saya kelak, kami akan langsung memiliki keterikatan batin. Saya tidak akan berminat untuk memperdulikan lelaki lain selain jodoh saya dan begitu juga dia terhadap saya. Kami akan memiliki sebuah hubungan yang manis dan tidak membosankan (catatan: saya tidak mengatakan mulus dan tanpa hambatan). Dimana saat itu tiba, hati saya akan selalu dipenuhi oleh kedamaian dan hati saya juga tidak akan takut untuk berkata “saya memilih dia”.

Percaya hal yang indah memang tidak salah, tetapi alangkah baiknya apabila kita tidak dibuai oleh “mimpi tentang pangeran berkuda putih” tadi. Sebelum membahas tentang jodoh, saya ingin membahas tentang point of view saya tentang pernikahan itu sendiri.

Bagi kita yang tinggal di bagian Timur dunia, pernikahan sepertinya menjadi suatu prestasi. Entah keyakinan apa yang merasuki masyarakat kita, tetapi memang begitulah realitanya. Orang tua akan sangat bangga apabila anaknya sudah duduk di pelaminan, bagi mereka pernikahan menjadi penentu lulus tidaknya mereka sebagai orang tua. Pernikahan adalah final test dan resepsi pernikahan adalah graduation party-nya. Coba saja anda (terutama wanita) berani berkata pada orang tua anda “Mama, aku ga mau nikah. Aku mau jadi wanita karier yang independen”. Dalam hitungan ketiga anda akan mendengarkan jeritan kaget yang kemudian diikuti khotbah panjang tentang masa depan.

Saya maklum tentang hal ini. Saya yakin faktor yang terbesar bagi para orang tua menginginkan anaknya menikah adalah cucu. Siapa sih yang tidak ingin melihat bagaimana bentuk hasil turunan generasi kedua mereka? Tetapi sebenarnya orang tua tidak bisa memaksa anaknya untuk menikah. Anaklah yang pada akhirnya menentukan jalan kehidupan mereka sendiri, karena mereka dilahirkan bukan hanya sebagai “seorang anak” tetapi juga sebagai seorang “individu bebas”. Dimana mereka (dan saya) memiliki banyak pilihan dan hak untuk memilih tanpa intervensi. Bagi saya, orang tua hanya dapat memberikan nasihat melalui contoh nyata kehidupan yang dialami. Bila alasannya adalah untuk kebaikan anak; maka leave it to your child’s hand ketika mereka telah dewasa karena saat itulah hak memilih mereka berlaku. Karena jika orang tua memang memikirkan kebaikan anaknya; mereka akan memiliki kepercayaan sepenuhnya kepada anaknya. Dan inilah final test yang sebenarnya bagi para orang tua: berhasilkah anda mempersiapkan anak anda untuk menjadi individu bebas yang matang ketika mereka dewasa?

Jadi jelas bagi saya pernikahan itu tidak boleh dipaksakan.

Kembali lagi ke bahasan tentang jodoh. Melalui perenungan saya sendiri, saya merasa bahwa kepercayaan saya tentang “mimpi pangeran berkuda putih” diatas terlalu kekanakkan.

Saya ingat sebuah cerita di komik Jepang bergenre slice of life yang menceritakan secara sederhana tentang pasangan hidup. Diceritakan ada seorang gadis yang menyukai seorang pria tampan nan mapan. Namun sayangnya, pria idamannya ini ternyata lebih menyukai saudara kembar si gadis ini. Akhirnya dia hidup dalam kesedihan dan kebencian selama bertahun-tahun setelah saudara kembarnya menikah dengan pria idamannya. Hingga suatu saat dia dikenalkan oleh ibunya kepada seorang pria sederhana yang bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan swasta. Setelah perkenalan itu, si pria mendekati gadis ini. Awalnya gadis ini menolak, namun akhirnya ketulusan dan kesabaran si pria mampu membuka matanya dan memberinya harapan. Si gadis mulai belajar memaafkan orang-orang disekitarnya dan memaafkan dirinya sendiri. Singkat cerita dia menikah dengan si pria walaupun saat itu dia belum jatuh cinta pada pria tersebut. Namun pada akhir cerita si gadis begitu yakin bahwa cepat atau lambat dia akan mencintai si pria seutuhnya; dia yakin ketulusan si pria sederhana telah berhasil menyentuh hatinya saat ini dan pasti akan memenangkan seluruh hatinya suatu saat nanti.

Cerita diatas menghancurkan persepsi awal saya yang lugu tentang jodoh (catatan: jodoh yang saya bahas disini adalah pasangan hidup). Jodoh tidak melulu harus seseorang yang dalam pertemuan pertama dengan kita mampu menggetarkan seluruh hati kita. Jodoh tidak melulu harus seseorang yang berhasil mem-blur-kan pemandangan sekitarnya ketika dia berjalan di depan mata kita. Jodoh tidak harus mereka yang datang dalam kesempurnaan yang memikat. Tidak.

Jodoh adalah pilihan hati anda. Seperti halnya pernikahan, anda bebas memilih. Jodoh adalah tempat kita memberhentikan pencarian cinta kita. Jodoh ada ketika keyakinan kita datang untuk menghabiskan sisa hidup kita dengan seseorang. Jodoh ada ketika timbul keberanian menerima seutuhnya dan mengambil resiko dari kelemahan seseorang. Jodoh ada ketika komitmen tiba. Jodoh bukan untuk dicari tetapi diyakini. Kesempurnaan jodoh itu adalah keindahan yang diciptakan dari cinta tanpa syarat. Kesempurnaan itu lahir dari kemampuan saling melengkapi melalui ketidaksempurnaan.

Jadi intinya bagi saya, saya tidak perlu susah-susah mengalami petualangan cinta yang rumit seperti sekuel sinetron atau seperti Arjuna. Saya hanya perlu memilih. Kalau nantinya saya memilih untuk menikah, saya akan menikah dengan seseorang yang mampu menyentuh hati saya secara pelan tapi pasti. Saya tidak perlu menunggu seseorang yang serba sempurna datang dalam kehidupan saya tetapi lagi-lagi saya hanya perlu memilih. Memilih untuk meyakini seseorang dan menyatakan dengan bangga bahwa dialah pilihan saya. Tidak ada yang lain selain dia karena saya sendiri yang memilih dia. Dia sempurna karena segala kekurangannya telah saya terima seutuhnya. Dan saya tidak perlu takut pilihan saya salah, karena saya memilih dengan diawali sebuah keyakinan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s