Kita

Aku paham, tidak akan ada habisnya kalau aku mengingatmu. Bukannya aku kurang keras mencoba melupakanmu. Demi apapun yang ada di dunia, aku mencoba sekuat tenaga.

Aku hanya tidak belum bisa menerima perasaan kosong yang kau ciptakan. Bagaimana bisa kau dan dunia memaksaku melupakan sesuatu yang bahkan belum aku dapatkan jawabannya?

Aku ingat setiap detail.

Aku ingat kita pernah melihat lampion terbang berdua di sebuah hari bumi, saat awal kedekatan itu.

“Gak semanis kamu” katamu sambil memakan es krim-mu, dulu, waktu kita masih dekat. Aku hanya tersenyum malu dan berpikir bagaimana cara membalasmu. Kemudian aku melepas jepit rambutku dan memakaikannya ke rambut tebalmu, sambil berkata “Sekarang lebih manis mana?” Aku ingat, saat itu kau hanya menggembungkan pipi, pura-pura merajuk.

Aku juga ingat waktu aku menantangmu berlari dalam hujan dan mengalahkanmu, kemudian kau mengantarku pulang sesudahnya, karena takut terjadi sesuatu di jalan. Padahal jarak tempat tinggalku hanya tinggal beberapa meter. Ah, tapi memang dulu kau selalu memaksa untuk mengantarku pulang dengan alasan yang sama.

Aku juga ingat betapa anehnya waktu kita ketahuan teman kita saat akan makan berdua. Dan karena kita berusaha menutupi, makan malam itupun menjadi sebuah makan malam bertiga. Tapi toh, aku menikmatinya.

Aku ingat kau pernah berteriak kaget dan berlindung ke arahku saat ada adegan mengejutkan di bioskop. Aku tertawa tidak berhenti saat itu, karena aku sama sekali tidak kaget apalagi bereaksi berlebihan sepertimu saat adegan itu. Dan menurutku itu lucu.

Aku ingat aku tertawa aneh ketika menerima pesan singkatmu. Atau saat kau berusaha memasak untukku, walau akhirnya hanya membuat perutku sakit saking pedasnya.

Aku ingat muka bantalmu saat menemaniku mengerjakan tugas.Dengan relanya kau habiskan sore harimu yang berharga -yang seharusnya bisa kau buat tidur siang- hanya untukku. Aku ingat sering menangkap basah kau yang sedang memperhatikan wajah seriusku sambil tersenyum, kemudian mengejek betapa anehnya ekspresiku.

Aku ingat kau membuatkanku pesawat kertas, memukul kepalaku dengan pesawat itu, kemudian kau menerbangkannya di jembatan dekat sungai. Aku ingat aku tertawa lama dan geli sekali karena pesawat kertas itu meliuk sembilan puluh derajat dengan loyonya, padahal sudah cukup keras usahamu menerbangkannya.

Aku ingat kita pernah bicara tentang jenis-jenis paus saat makan malam berdua. Memang bukan obrolan biasa untuk sebuah makan malam, dan aku suka itu.

Aku ingat kita pernah saling mengusili satu sama lain dengan darah nyamuk bekas dipukul. Itu menjijikan, tapi tetap lucu.

Aku ingat wajah bersalahmu waktu terlambat datang ketika kita janjian, karena aku diduakan dengan hobi tidurmu.

Aku ingat waktu kau meneleponku, hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja waktu hujan deras datang, dan aku masih diluar.

Aku ingat semuanya, kan?

Hey, you! Aku yakin aku sudah memaafkanmu. Apapun yang pernah terjadi pada kita. Sulit menjelaskan semuanya, karena kau dan aku pun tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi pada kita. Kita hanya seperti mimpi musim hujan yang berlalu, ketika selesai menjalankan tugasnya menyapu tanah-tanah yang kering. Sebentar begitu deras, kemudian hilang.
Aku paham ini klasik, tapi aku harap kau sudah menemukan kebahagiaanmu. Yang tidak akan pernah kau tinggalkan begitu saja. Aku dengan tulus berharap kau akan memiliki hari-hari yang lebih indah saat ‘kita’ sudah tidak ada. Dan aku berharap aku juga bisa memilikinya.
Kau dan aku sedang menjalani kehidupan yang sama sekali tidak bersinggungan. ‘Kita’ sekarang hanya menjadi kau dan aku.
Maafkan aku, belum pernah sedikitpun aku mengucapkan terimakasih atas waktu-waktu indah yang pernah tercipta untuk ‘kita’. Terimakasih untuk usaha yang pernah kau buat untuk ‘kita’.
Maafkan aku, saat itu aku hanya tahu caranya membencimu. Membenci caramu menyempurnakanku lantas kemudian membuatku merasa tidak berarti. Aku hanya gagal memahami jalan yang kau ambil, karena kau tidak pernah mencoba memberiku kesempatan untuk memahaminya, karena kau hanya mencoba meyakinkanku dengan apa yang ingin kau yakini. Bukan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku akan tetap begini.

Dan kau

akan tetap

disini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s