Berdamai Dengan Kehilangan.

Sudah pernah merasakan rasanya kehilangan salah satu anggota keluarga inti? Saya sudah.

Perasaan itu berat sekali, sama seperti kehilangan orientasi dalam hidup ini. Semua yang saya pikirkan adalah ketidakmungkinan. Ketidakmungkinan saya melanjutkan hidup tanpa dia yang pergi begitu saja. Dia adalah kakak perempuan saya. Baru berusia 23 tahun saat dia dipanggil Tuhan, sedang berusaha menyelesaikan skripsinya saat itu.

Sebagai anak dari keluarga pas-pasan, kami terbiasa berbagi kamar. Saya dan kakak perempuan saya harus tidur di satu kamar mulai sekitar dua tahun setelah kami berpindah rumah, karena adik saya laki-laki (yang dulunya berbagi kamar dengan saya) sudah tumbuh menjadi seorang pria.

Semenjak itu, kami menjadi lebih dekat, saya bisa bercerita apapun kepadanya begitu juga sebaliknya. Tiap malam kami selalu dimarahi oleh orang tua kami karena sering tertawa kelewat batas. Walaupun usianya sudah 20 tahun keatas, dia masih suka bercanda seperti anak kecil. Kami juga sering berbagi film, musik, dan game. Walaupun memang lebih banyak saya yang menerima daripada memberi.

Kakak pengen nerusin ke jurusan Hubungan Internasional kalau S2 nanti,” katanya. Saya yang dulu tidak tahu apa-apa tentang jurusan ini hanya bisa plonga plongo saja menanggapinya. Saya adalah satu-satunya anak dalam keluarga saya yang mengambil jurusan IPA, dan tentu saja seperti lazimnya kebanyakan anak IPA lain, saya ingin masuk jurusan kedokteran (waktu itu). Maka dari itu, saya tidak pernah tertarik dengan pilihan jurusan kakak saya itu.

Baru saya sadari setelah saya kehilangan dia: dialah inspirasi yang membuat saya ingin mengambil jurusan ini. Dia adalah inspirasi hidup saya, dibalik tingkah iseng dan masa bodohnya, dia adalah pekerja keras. Dia sering ikut volunteer untuk menjadi Liaison Officer di berbagai konferensi mancanegara yang sering diadakan di kota kami, Surakarta, dia juga salah satu murid cemerlang di SMA maupun di jurusan kampusnya, dia juga aktif dalam kegiatan keagamaan. Jika dibandingkan dengan saya ini, jauh sekali rasanya.

Awal kepergiannya membuat saya seperti orang yang kehilangan jiwanya, entah bagaimana mendeskripsikannya, karena perasaan itu perasaan yang kosong dan hampa. Perasaan yang tak berbentuk. Setelah habis air mata saya terkuras, saya hanya bisa terdiam, tidak bisa menyesuaikan diri dengan ketiadaan yang rasanya begitu pekat. Jika saya bisa waktu itu, saya ingin membangunkan dia kembali. Saya ingin tubuhnya hangat kembali. Saya ingin dia membuka mata dan mengatakan bahwa itu semua hanya bercanda. Saya ingin membuka mata saya dan berharap itu semua hanya mimpi buruk.

Namun inilah luar biasanya perasaan manusia yang dibuat oleh Tuhan, bagaimana pun hancurnya, manusia akan tetap bisa hidup untuk menjalani kesehariannya. Saya sering memperhatikan beberapa teman-teman saya yang juga harus berdamai dengan rasa kehilangan. Mereka mungkin akan terlihat sedih dan kosong dalam beberapa waktu, namun mereka tetap akan bangkit dan tersenyum. Bukannya saya dan mereka lantas melupakan mereka yang pergi, kami hanya tidak ingin membuang hidup yang masih diberikan kepada kami karena pengalaman kehilangan itu membantu kami menghargai hidup.

Setelah fase kehilangan itu, saya merasakan betul betapa dekatnya manusia dengan kematian dan betapa tidak sadarnya kita akan hal itu. Kemudian saya mulai paham, apa makna dibalik kehilangan ini. Saya hanya harus mampu bangkit kembali, saya harus kembali menjalankan hidup yang sebentar ini dengan penuh makna. Orang-orang yang mencintai saya menunggu saya kembali tersenyum, dan saya sendiri menginginkan mereka berhenti mengkhawatirkan saya dan memandang saya dengan wajah iba. Tiba-tiba saya menjadi bijak, seperti habis mendapat ilham.

Sekarang ini, saya gunakan memori tentang rasa kehilangan itu untuk membangkitkan gairah hidup saya. Karena walaupun saya menangis sejadi-jadinya, saya tidak akan mampu membangkitkan kakak saya lagi. Lebih baik saya menjalani hidup saya ini, membanggakan dan menjadi manfaat untuk orang-orang sekitar, sehingga nanti (kalaupun saya bertemu dengan kakak saya) di alam yang lain, saya bisa bercerita banyak kepadanya dan dia akan tersenyum mendengarnya. Yah, walau tidak bisa pun bertemu dengannya kelak, bisa melihat orang disekitar saya tersenyum saja, saya sudah merasa bahagia.

P.s. Jangan salah sangka, sampai saat ini apabila ingatan tentang kakak saya itu menyerang lagi, saya masih sering terbawa perasaan. Tapi saya yakin, ini semua hanya proses pemulihan, saya hanya harus bersabar dengan diri saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s