Mea Maxima Culpa

Suatu Hari Minggu yang biasa, saya bangun dari tidur saya setelah melihat jam meja saya menunjukkan pukul 06.30 pagi. Saya berjanji pada teman saya untuk beribadah ke Gereja bersama.

Saya memeluk agama Kristen Protestan, namun kali ini saya akan pergi beribadah dengan tata agama Katolik. Hal ini dikarenakan kami  tinggal di sebuah mess, dan Gereja lokal disana menggelar Ibadah Katolik untuk pagi hari.

Gereja ini  didirikan untuk  desa yang berada di daerah perbukitan, udaranya sangat sejuk, sesuai dengan postur Gereja ini yang dapat dibilang cukup kecil dengan atap yang tinggi. Persis seperti gereja-gereja yang sering muncul di dalam film-film koboi Barat.

Sempat saya ragu untuk mengikuti ibadah ini, terbersit dalam pemikiran saya bahwa bisa saja hari ini tidak dianggap sebagai ibadah karena saya pergi ke Gereja lain yang tata ibadahnya sangat berbeda dengan saya.

Namun akhirnya, saya masuk juga ke dalam ruangan Gereja. Ketika memasuki ruang ibadah, saya bisa melihat para jemaat menundukkan diri di depan Gereja sebelum masuk.

Tak berapa lama, lonceng di dekat Altar dibunyikan, jemaat berdiri. Rupanya, kami jemaat berdiri untuk menyambut Romo yang akan hadir bersama dengan pelayan-pelayan Altar hari itu. Semua terlihat khidmat, pandangan mata tertuju pada rombongan Pelayan Tuhan yang datang. Kebanyakan Pelayan Altar ini adalah remaja-remaja. Walaupun masih di bawah umur, mereka terlihat dewasa dan tenang dalam membawakan tatanan ibadah.

Selama tata ibadah, saya mengikuti saja orang-orang di depan saya dan teman di samping saya. Memang cukup berbeda dengan tata ibadah yang biasa saya ikuti, namun saya dapat menyesuaikan. Namun bukannya merasa aneh, saya justru merasakan kedamaian dalam hati saya.

Ada satu hal yang membuat saya merasa haru dan kagum: jemaat menghargai Gereja dan memperlakukan ibadah dengan sikap yang hormat. Meskipun jemaat yang hadir cukup sedikit, namun ruangan dipenuhi oleh nyanyian yang merdu lagi nyaring. Romo yang menjadi pelayan di Gereja ini adalah mahasiswa juga di tempat saya dan teman saya berkuliah S2. Meskipun, tidak ada dari kami yang memeluk agama Katolik, Romo menyambut hangat kedatangan kami dan terlihat sangat senang dari mimbar melihat kami duduk di barisan belakang.

Dalam kotbahnya, Romo membawakan Firman Tuhan tentang bagaimana untuk merendahkan hati dalam setiap doa dan ibadah kita. Beliau memberikan contoh tentang bagaimana doa dalam bahasa Latin “mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa” yang artinya adalah “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh-sungguh berdosa.” Bahwasannya tidak ada manusia di muka bumi ini yang luput dari kesalahan. Doa dalam pengakuan bahwa diri kita lemah dan berdosa lah, yang akan berkenan didengarkan oleh Tuhan. Dan sesungguhnya tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya sebagai orang-orang yang pernah berbuat dosa.Umat Kristen Protestan tidak lebih tinggi dari umat Katolik, umat Katolik tidak lebih tinggi dari umat Muslim, umat Muslim tidak lebih tinggi dari umat Buddha, umat Buddha tidak lebih tinggi dari umat Hindu, maupun agama-agama lainnya. Kita semua telah bersalah,kita mempunyai derajat yang sama.

Sekali lagi, saya merasa haru. Penghargaan atas Gereja dan ibadah telah merubah mindset saya tentang Gereja Katolik, dan betapa sesungguhnya saya merasakan Bhinneka Tunggal Ika karena penerimaan Romo terhadap kami yang merupakan umat Kristen Protesran. Bahwa walaupun agama dan tata ibadah kami berbeda, saya masih bisa merasakan kasih dan damai sejahtera melalui jemaat-jemaat di sekitar saya.

Saya pun ingat pada Hari Idul Fitri, saya pernah menyambangi rumah tetangga-tetangga saya yang beragama Islam untuk memberikan ucapan selamat. Mereka  menerima dengan senang hati kehadiran kami, bahkan mengajak kami untuk bersama-sama makan sebagai bentuk perayaan dan ucapan syukur. Saya juga pernah pergi ke sebuah Pura di Bali, dan mereka juga menyambut kedatangan kami dan mengajari kami bagaimana tata ibadah mereka. Saya pernah pergi ke Kuil di Jepang bersama teman-teman saya, dan mereka mempersilakan kami masuk dan berdoa dengan kepercayaan kami masing-masing.

Sesungguhnya, memang indah perbedaan yang ada. Semua beragam, tapi saling menghormati, saling menyadari bahwa kami memiliki nilai kami masing-masing dan bisa belajar dari nilai lebih dari orang lain. Semoga kedepannya, semakin banyak orang yang menyadari bahwa manusia seharusnya terus mengingatkan dirinya: “mea maxima culpa” agar tidak ada lagi yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain.

State of Nervousness

This night, I got a message in my WA. It was a group invitation, but not just an ordinary group chat. It was my family group chat made for this special day.

Why special day? Because, we will have a new member in our family. Yay! No, I am not talking about another little brother/sister. My mother already had her menopause. So, no.

I am talking about a new baby niece (at least it was what the doctor said). A baby niece! I will have the third niece! I am excited, but also nervous at the same time.

I always get nervous when I hear someone will give birth. You know, like imagining a not-so-small round thing will be popped up from that elastic hole. That thing, that previously carried around in a belly. And that thing has life. And that thing has your gene.

Imagine how many medical mistakes that would probably happen within the process. A soon-to-be mother should trust her life to the medical team’s hands. A soon-to-be mother should bear an ineffable pain (because all mothers that I asked, came up with the same answer “gak bisa dibayangin deh”). Meanwhile, the baby should struggle to find their way to get out, to see the world. They should sneak out from their mother’s warm and comfortable womb to this cold world. It is a process of mutual sacrifice.

Despite of all things above, I am still clueless about it. Because you’ll only truly feel it, when you experience it.

God bless my sister in law. May she’s given strength, find herself enough courage and supports she needs. God bless my soon-to-be third niece, I am being excited to meet you soon. I hope this world isn’t too cold for you, because your soon-to-be family is here with much warm love waiting for you.

Yes, I am happy. Until a message appeared on my screen,

“Berikutnya mama tunggu cucu dari kamu, Nggi.”

Yes, I am Single

Story about tonight? Yes, I have one.

I supposed to watch my favorite band with my best friends. But I did not go.

Yes, it’s raining outside when the show started. And yes, I have a lot more important things to do than standing in crowded place listening to the band. Yes, there is no adult at home to watch over my little nieces when I asked my big sister’s permission. But none of them are my main reasons to not going.

I’m suddenly being lazy, just by the thought of being in that place.

Why?

Imagine. The songs would be so romantic and the night would be so blue and the weather would be so cold and the couples

.

.

THEY WOULD BE EVERYWHERE.

No, I am not a desperate single who envies all cute couples in the world. In the name of peace, I don’t mind if they appear in front of me.

Just not tonight. Tonight is different. Tonight is too cold to be alone outside.

Instead of going anywhere, let me rant about several questions, that all singles (and me) are too bored to answer in serious way.


Truk aja punya gandengan, masa kamu belum? 

“Gandengan” here refers to the containers that attached to the truck. The containers are attached to the truck because they cannot move alone, while the truck needs the containers to share the weights they should carry around. I still can move freely on my own, and I am still able to carry my own things around. So I don’t see the problem here.

Mblo, malam mingguan kemana nih? <in a very sarcastic tone>

I know I’m single, but it doesn’t mean that I don’t have something cool to do on Saturday night. Seriously, I have life.

Enggak bosan apa jomblo terus?

To be honest, sometimes I want to know what my life would be when I had a boyfriend. But being single is always be a comfort zone to me. Sometimes it is (of course) kinda boring, but most of times I enjoy it very much. Plus, I have TONS OF THINGS to do. So please tell me again how could my life be boring?

Cie jomblo. Enggak laku ya?

Yes. Because I am not for sale.

Masa udah berapa tahun di kampus belum dapat pacar?

My university life goals are not including ‘the hunting for Mr. Right’. If it’s one of yours, well, congratulations.


Chill out, I don’t hate relationships in college life. Some of my dear friends are currently in relationships, and I think they are cute. If I had someone suits my life, I would probably be in one too.

I just cannot understand on how people exaggerating the deal of being single.

We are fine, we just have not met someone who fits with us. And that’s all. If you want to tease us, go ahead. We know you are just kidding. But please do it in proper amount, do not go too far. Like if you want to know why we are still single, ask the reason, ye shall receive. But please please don’t go too far. You just don’t know how lonely a night can be for a single to pass through.

Thanksgiving

Semenjak hari saya lahir ke dunia ini, saya belum pernah merayakan Thanksgiving (mengingat tanggalnya pun tidak). Memang karena saya tidak tinggal di US/Canada/negara yang merayakan Thanksgiving. Hari ini pun, saya kira post ini akan bertepatan dengan hari Thanksgiving, tapi sayangnya ini sudah melewati tengah malam.)

Saya tidak tahu makna dibalik Thanksgiving. Mengapa harus ada satu hari sebelum perayaan Natal, hanya untuk mengucapkan terimakasih untuk semua yang kita miliki? Bukankah kita sudah sering berterimakasih pada Tuhan setiap harinya? (meskipun hanya melalui celetukan “Alhamdullilah”/”Puji Tuhan”)

Kemarin, secara bercanda teman saya mengejek saya “ungrateful bit*h“. Yeah, saya tahu itu hanya bercanda (lagipula disampaikan dari seorang teman yang memang agak ‘lain’), tapi kemudian perkataan itu membuat saya sadar bahwa diri saya memang seorang “ungrateful bit*h“.

Saya sering mengeluh ketika tugas kuliah saya banyak, bukannya bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk kuliah.

Saya sering mengeluh ketika disuruh menjaga keponakan, bukannya bersyukur punya keponakan yang lucu dan sehat.

Saya sering iri melihat teman saya bisa ini-itu dengan uang orang tuanya, bukannya bersyukur sudah dididik dengan baik agar tidak menghamburkan uang.

Saya sering kesal dengan pemikiran orang serumah yang berbeda, bukannya bersyukur punya keluarga yang masih utuh.

Saya sering menyalahkan keadaan untuk masa lalu saya, bukannya bersyukur bahwa keadaan saya sekarang jauh lebih baik.

Masih banyak hal yang seharusnya saya syukuri, banyak hal yang harus saya perbaiki. Mungkin dua tiga hari lagi saya akan melupakan hal ini, dan kembali menjadi ungrateful bit*h. Tetapi saya yakin, saat ini saya sudah punya pengertian sendiri tentang Thanksgiving.