Find A Man Who Ruin Your Lipsticks Not Your Mascara? Nah, Both Are Disgusting.

Why do people like to share this kind of quotes? Is it romantic? No.

What is wrong with this quote? I found some. Here they are: Continue reading “Find A Man Who Ruin Your Lipsticks Not Your Mascara? Nah, Both Are Disgusting.”

Advertisements

Be Yourself (?)

Seringkali kita mendengar anjuran “be yourself” atau “jadilah diri sendiri” dan menelannya (terlalu) mentah-mentah. Sekarang saya ajak anda untuk merenungkan dalam-dalam anjuran ini.

tumblr_lww80qmpdT1qiutsko1_500

Manakah diri anda yang sebenarnya; yang khidmat beribadah di tempat ibadah atau yang mengumpatkan kata-kata kasar saat menonton pertandingan bola? Manakah diri anda yang sebenarnya; yang berpakaian rapi saat berada di sekolah atau yang sedang ongkang-ongkang kaki mengenakan celana pendek di rumah?

Sudahkah anda menemukannya?

Lagi – lagi saya akan menggunakan kutipan dari “Sociology for Dummies”

“Some sociologists have gone so far as to say that the idea of “being yourself” only makes sense in a social context. When you think about “who you are”, what you’re really thinking about is how you’re similar to, and different from, the people around you

(page 105)

Dan lagi-lagi kita mendapat kesimpulan bahwa semua akhirnya memang tentang society, bahwa dalam mengartikan “be yourself” pun anda akan terjebak dalam perbandingan dengan society. 

Pertanyaan yang muncul di benak kita seringkali hanya berkisar pada sama atau bedanya kita dengan orang-orang di sekitar kita. Dan inilah yang sering kita salah artikan. Ketika kita melakukan hal yang berbeda dengan orang kebanyakan barulah kita merasa “jadi diri sendiri”, padahal mungkin saja sebetulnya diri kita yang sebenarnya ingin melakukan hal yang sama dengan orang-orang itu.

Jangan sampai anda terjebak dengan konteks sosial ini untuk mendefinisikan keadaan “jadi diri sendiri”. Pikirkanlah masak-masak apakah keinginan anda dan bagaimanakah anda yang sebenarnya. Jangan hanya karena anda tidak mau dianggap mainstream lalu kemudian anda mengorbankan identitas dan keinginan asli.

Hal penting lain dalam praktik menjadi diri sendiri adalah  berpikir strategis. Misalnya apabila anda sangat nyaman menggunakan piyama, bukan berarti anda harus memakainya ke kampus untuk bisa menjadi “be yourself“. Memang tidak ada larangan tertulis yang diikuti hukuman resmi jika anda melakukannya, tetapi anda pasti tahu bahwa terkadang hukuman sosial bisa lebih kejam.

Dijelaskan dalam buku yang saya bahas disini – “Sociology for Dummies” – bahwa manusia perlu beradaptasi dengan berbagai macam konteks sosial. Anda harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda untuk menciptakan kenyamanan bagi diri anda sendiri dan bagi orang lain di sekitar anda. Inilah yang disebut code switching. Inilah kemampuan dasar yang esensial untuk bisa survive dalam masyarakat.

Bermunafiklah Selagi Bisa

hypocriteTulisan ini terinspirasi dari salah seorang teman saya yang sering menjadi bahan pembicaraan karena – mereka bilang – munafik. Saya tidak tahu apakah ini semua karena keramahannya yang berlebihan atau apa, yang jelas saya sendiri merasa tidak nyaman dengan caranya tersenyum.

Saya memang bukan ahli, namun saya sedikit banyak bisa membaca karakter orang melalui mata. Nah, yang saya lihat dari mata teman saya ini adalah dia seringkali memaksakan senyum. Saya bisa membedakan senyum tulus dengan senyum “gue-cuma-beramah-tamah-sebenernya-sih-gue-gak-suka-sama-elu”nya. Mungkin saja dia berusaha ramah dan mati-matian menyembunyikan rasa tidak sukanya. Tapi sayang, orang lain menganggapnya penuh kepura-puraan dan somehow memuakkan.

Teman saya yang lain justru mengalami kasus berbeda. Seperti teman saya yang saya ceritakan di atas, dia juga menjadi bahan pembicaraan, tetapi kali ini kasusnya karena dia terlalu berterus terang. Teman saya yang terlampau jujur ini tidak akan mau repot-repot menyembunyikan sedikitpun rasa tidak sukanya (bahkan untuk kebaikan bersama) kepada orang lain. Sekali anda mendengar dia berkomentar tentang hal yang tidak disukainya, niscaya telinga dan hati anda akan panas.

Saya Munafik?

Sebelum memutuskan apakah sikap munafik itu salah atau benar, ada baiknya kita mengetahui batas kemunafikan terlebih dahulu supaya bisa menjawab satu pertanyaan berikut : apakah munafik itu hanya berbatas pada sikap yang dibuat-buat saja?

Menurut saya, sadar atau tidak sadar kita semua adalah orang yang munafik.

Tidak percaya?

Coba anda tanyakan pada diri sendiri, pernahkah anda merasa tidak senang saat diajak ke sebuah acara keluarga; tapi akhirnya berangkat juga walaupun harus berusaha sekuat tenaga memaksakan senyum di depan saudara-saudara anda?

Atau pernahkah satu dua kali anda menolong teman anda dan merasa kerepotan karena permintaannya, tetapi saat teman anda berkata, “maaf ya ngerepotin” anda hanya akan tersenyum dan membalas, “enggak kok hehehe.”

Bagaimana dengan sikap yang anda tunjukkan di depan guru atau dosen yang tidak anda sukai? Apakah demi nilai yang baik anda berusaha bersikap manis dan jika perlu sampai membuat anda dikenal secara pribadi oleh mereka? Padahal sebenarnya jika diizinkan anda ingin sekali melemparkan buku-buku tebal bahan bacaan ke wajah beliau.

Atau mungkin ketika anda ditanyai pendapat teman anda tentang pekerjaan yang mereka buat anda akan berkata, “udah bagus kok cuma kurang bla bla bla aja,” dengan ekspresi palsu yang menyembunyikan rasa prihatin anda terhadap pekerjaan teman anda yang bisa dikatakan – hopeless.

Sampai disini apakah anda masih dapat berkata anda murni seratus persen bebas dari kemunafikan? Jika iya, jangan merasa bangga dulu.

Saya sangat yakin orang tua anda pernah mengajarkan anda untuk berbuat munafik. Menekan perasaan negatif yang sebenarnya anda miliki untuk menampilkan hal yang baik saja di depan orang lain. Bagaimana bisa?

Saya akan memberi contoh melalui pengalaman saya. Suatu kali saya dan keluarga saya mengunjungi rumah seorang paman yang berada di sebuah gang sesak di kampung kecil. Rumahnya mungil sekali, berlantaikan semen, dan bersebelahan dengan kandang kambing. Masalah timbul saat keponakan saya yang masih berusia empat tahun dan memang lahir dari keluarga berada, enggan masuk ke rumah itu. “Rumahnya kotor… jelek…” katanya. Spontan orangtuanya memarahi keponakan saya dan kemudian meminta maaf pada si empunya rumah. Paman saya hanya bisa tersenyum memaklumi.

Dari cerita di atas kita bisa pelajari bahwa terkadang pendapat jujur yang berunsur negatif harus ditutupi, dalam kasus ini untuk mencegah rasa sakit hati seseorang. Bukannya orang tua keponakan saya ini tidak setuju dengan pendapat si anak bahwa rumah itu kotor (karena kemudian hal itu dibahas saat perjalanan pulang dari rumah paman saya) tapi mereka sedang mengajarkan si anak untuk melindungi perasaan orang lain. Atau bisa dikatakan – bersopan santun.

Sopan santun yang diajarkan oleh orang tua kita secara tidak langsung mengajarkan kita berbuat munafik. Bagaimana cara menghadapi orang yang lebih tua, tetangga, guru, teman, pemimpin agama, atau siapa saja. Anda tidak dibolehkan berkata kasar, tidak boleh menyakiti hati, apalagi menyakiti fisik mereka walaupun disaat anda sangat menginginkannya. Anda harus bersikap seperti yang diharapkan oleh orang lain dan bukannya berbuat semaunya menurut keinginan anda sendiri.

Saya akan mengutip sedikit dari buku “Sociology for Dummies” :

“You don’t have to follow any of these social norms, but if you don’t, people around you may find your behavior confusing or even rude.

It may seem unfair – you didn’t make any of these rules. In fact, no single person did. Economic realities are beyond the control of the largest companies; laws may be proposed by specific legislator but normally must meet with broad approval passed; and fashion may be started by popular people, but no one can single-handedly make something trendy”

(page 104)

Anda memang tidak pernah menciptakan peraturan – peraturan yang ada, tetapi anda (dengan force tertentu) dibebani untuk mengimplementasikannya. Bukan anda yang mau untuk membungkuk di depan orang tua saat anda berjalan di depan mereka, bukan anda yang ingin menahan diri agar tidak makan di depan umum untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa, bukan anda yang ingin berbasa-basi sebentar dengan saudara jauh anda setelah tidak sengaja berpapasan di mall. Itu semua berdasarkan tuntutan sosial yang tidak dapat diciptakan oleh individu semata. Bukan anda atau orang tua anda – tapi karena society ingin anda melakukannya!

Munafik : Salah atau Benar?

Kesimpulan dari penjelasan di atas tadi bukan untuk membela orang-orang yang dicap munafik, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa diri kita sendiripun sebenarnya adalah orang yang munafik.

Menurut saya, sah-sah saja berlaku munafik di depan orang, apalagi apabila alasannya untuk melindungi perasaan orang lain. Karena munafik bukanlah salah atau benar, tetapi perlu atau tidak dilakukan. Asalkan anda tahu batasan yang tepat dimana anda harus membatasi sikap ini dan sampai mana society menerimanya, anda akan aman dari cap munafik.

Pada akhirnya memang semua tentang society; karena kita hidup di dalamnya, masih membutuhkannya, dan untuk mencapai semua itu kita harus bisa diterimanya. Saya tidak memaksa anda untuk mengikuti aturan dalam society, bahkan saya tidak akan ragu mengacungkan dua jempol bagi mereka yang bisa bertahan hidup tanpa beremeh temeh dengan si “S” besar ini. Tetapi jika anda merasa tidak yakin akan bisa mengalahkan kekuatan arusnya maka anda harus bermain di dalamnya.

You don’t have to be accepted by society… but it will be a lot easier that way.